Blog

PELAMPUNG DI BAWAH KURSI ANDA

Review Pameran

Pameran ini berlangsung pada 14 Oktober - 6 November 2016, pameran yang diselenggarakan di Selasar Sunaryo art space ini di kuratori oleh Agung Hukatnikajenong dan Tony Godfrey. Pameran ini diikuti oleh beberapa seniman dari Filipinan antara lain Jonathan Ching, Mariano Ching, Lena Cobangbang, Louei Cordero, Christina Dy, Paulo Icasas, Geraldine Javier, Kitty Kaburo, Keiye Miranda, Paul Mondok, Michael J. Munoz, Yasmin Sison, Wire Tuzon, Ling Quisumbing dan Mac Valdezco. Pameran ini merupakan pameran dari sebuah ruang pamer alternatif di Filipina yang bernama Surrounded by Water (SBW). Surronded by Water yang didirikan pada tahun 1998 oleh seniman dengan nama Wire Tuazon dan sejumlah mahasiswa departemen seni rupa di Universtiy of Philipines di Manila. Saat itu Surrounded by Water merupakan sebuah ruang inisiatif yang alternatif dimana saat itu mendorong banyak rekan-rekan yang melakukan ekperimentasi pada generasi baru pelukis di Filipina. Surrounded by Water menjadi sebuah ruang alternatif, yang mana saat itu kondisi di Manila masih sedikit galeri memamerkan karya-karya seni konvensional. Kemudian beberapa dari seniman-seniman yang pernah berpameran di Surrounded by Water sukses meniti karir secara perorangan. Kemudian Surrounded by Water secara resmi ditutup pada tahn 2003 dan beberapa seniman-senimannya masih terus bertemu secara berkala dan berpameran bersama-sama hingga sekarang.

Pada pameran yang berjudul Pelampung di Bawah Kursi Anda memamerkan 10 seniman Surrounded by Water dan mengundang 5 seniman yang belum pernah berpameran di Surrounded by Water atau hanya sekilas mengetahui Surrounded by Water. Pameran ini didominasi dengan karya lukisan, beberapa instalasi serta video. Dalam pengantar pameran, diceritakan salah satunya adalah pameran ini mencerminkan semangat kolektif DIY (do-it-yourself) satu generasi seniman di Filipina saat itu yang tidak bergantung pada infrastruktur seni yang ada di Filipina.

Dalam wawancara dengan salah satu kurator dalam pameran ini, Agung Hukatnikajenong mengatakan bahwa pameran ini secara keseluruhan memang pada dasarnya tidak memiliki benang merah antara karya satusama lain, dan tidak ada satu gaya khusus yang sama dalam Surrounded by Water, yang mempersatukan mereka adalah ruang (Surrounded by Water) tersebut. Pameran ini menjadi satu titik kembalinya Surrounded by Water walau tidak secara fisik mereka berkumpul kembali, tetapi dalam ruang pamer yang dibentuk di Bandung. Beberapa karya dikerjakan di Bandung, Yogyakarta dan Manila.

Gambar 1 Karya Louie Cordero Cochin Moon (Dokumentasi Pribadi)

Pada karya Louie Cordero yang berjudul Cochin Moon menggambarkan sesosok mahluk dengan tangan kanan menunjukan tangan 2 dan satu tangan lagi memegang dunia. Agung Hujatnikajenong mengatakan bahwa visual yang ditampilkan mengikuti gaya kendaraan Jimnie merupakan transportasi umum di Manila. Pada karya ini Louie Cordero mencoba menghadirkan kesan visual dari transportasi dan keadaan yang ada di Manila. Walau masih belum terlalu mewakili dari maksud yang dituju.

Pada karya berikut, karya dari Jonanthan Ching dengan judul Stripesi menggambarkan sebuah terpal yang membungkus sesuatu, karya ini menggunakan beberapa frame yang tidak sejajar. Karya ini menggunakan cat minyak diatas kanvas, menurut Agung Hujatnikajenong karya ini menggambarkan terpal yang biasa digunakan oleh seniman di Manila sebagai pengganti kanvas.

Gambar 2 Jonathan Ching Stripes (Dokumentasi Pribadi)

Pada kaitannya judul pameran ini, menurut Agung Hujatnikajenong adalah, munculnya penerbangan murah yang menimbulkan interaksi seniman antar negara, khususnya wilayah Asia Tenggara. Dengan kemunculan tarif penerbangan murah sangat mendukung koneksi dan mengembangkan relasi antar seniman dan membantu perkembangan medan seni rupa di Indonesia dan Asia Tenggara lebih luas lagi. Yang kedua, Pelampung di bawah Kursi Anda merupakan, kemunculan sebuah istilah ketika penumpang penerbangan merasakan dalam keadaan darurat dan pelampung sebagai objek penyelamat saat kondisi kritis tersebut.

Selanjutnya karya yang di hasilkan oleh Mariano Ching yang berjudul Drfiting into Ship. Karya instalasi ini memperlihatkan bentuk badan pesawat yang terpotong-potong seperti sebuah daging. Pada karya ini memperlihatkan kemiripan dari sebuah daging, dengan menggunakan material yang penulis duga adalah lilin. Karya ini memberikan kesan bahwa sebuah pesawat yang di bongkar atau di autopsi bagian per bagian lalu dipamerkan dan terlihat seperti diawetkan.

Secara artistik pameran ini cukup menarik, Pengunjung dapat melihat perkembangan seni rupa khususnya seni lukis yang di presentasikan oleh sebuah ruang alternatif yang dengan nama Surrounded by Water di Manila. Walau tidak menjadikan representasi dari perkembangan medan seni rupa kontemporer di Manila. Selain itu, pameran tidak secara gamblang menjelaskan korelasi antara eksistensi dan perkembangan hadirnya Surrounded by Water di medan seni rupa kontemporer di Manila secara khusus dan secara umum di Filipina.

Secara wacana pameran ini juga belum menunjukan titik dimana, aspek sosial yang diberikan oleh Surrounded by Water kepada perkembangan seni rupa di Manila, selain itu beberapa karya yang dipamerkan masih belum menjelaskan hal tersebut. Karena sesuatu yang menarik dari Surrounded by Water yang dijelaskan dalam pengantar pameran adalah semangat kolektif yang di hasilkan oleh lembaga tersebut, terkesan sangat naif ketidak konteks tersebut tidak dipresentasikan secara artistik. Posisi penting dari sebuah ruang pamer alternatif yang layak di hadirkan ke publik, khususnya ketika hal tersebut dipresentasikan di negara lain. Terjalinnya interaktifitas yang dibuahkan oleh penerbangan murah dan tinggi peran internet yang mendorong intesifikasi koneksi antara pelaku seni yang dirasa menjadi penting untuk dihadirkan, Karena dalam pengantar pameran ini, hal tersebut disinggung secara lugas.

Idealnya Seni Rupa Kontemporer

Menurut  pandangan saya

Seni rupa kontemporer adalah sebuah arena dengan banyak idealisme tentang seni rupa bertarung di dalamnya. Dari dahulu zaman PERSAGI hingga kini sebenarya benturan ideologi atau idealisme di kalangan seniman, pemikir seni, maupun para akademisi seni adalah hal yang tak berubah dan tetap berjalan di tempat. Kesemuanya untuk menuju kepada satu tujuan, medan seni rupa yang ideal untuk bangsa ini.

Toh pedebatan yang tidak sehat karena lebih banyak menolak, menghujat, dan mencibir gagasan dari pihak lainnya yang dianggap salah, tidak akan ada ujungnya. Anggaplah semuanya benar, memiliki nilai baik dan buruk. Nilai yang baik dipadukan dengan nilai lain yang juga baik, dielaborasikan, disinergikan sehingga menghasilkan nilai baru. Yang buruk, spontan saja ditolak, tak usah diungkit-ungkit, biarkan dia kembali ke tempatnya. Jikalau ada yang mengatakan tidak bisa seperti demikian, ya silahkan untuk terjebak memikirkan jalan keluar di dalam pikiran anda sendiri. Mungkin itulah kendalanya, sucinya seni yang menaungi para pelakunya juustru tak berusaha untuk dijangkau, melainkan kesemuanya terjebak di dalam paradigma benar-salah yang sebetulnya berada di dalam naungan kesucian seni secara luas, ia mencakup pula seni rupa.

Tulisan ini akan saya bagi ke dalam tiga bagian utama tentang seniman dengan proses berkaryanya, para penulis dengan penulisannya, dan juga pameran sebagai sebuah bentuk presentasi dalam seni rupa kontemporer.

Berkesenimanan

Semua jenis seni hasil ciptaan manusia, termasuk seni, adalah hasil dari pengolahan teknik dan material yang digunakan. Awalnya ia tercipta tanpa adanya kesadaran akan gagasan di balik penciptaannya. Namun seiring sadarnya manusia akan akal dan pikiran yang ada dalam dirinya, apapun hasil peradaban manusia termasuk seni, haruslah disadari alasan-alasan dibalik kehadirannya di dunia. Menyadari tentang segala hasil ciptaan, bukan berarti juga melupakan kehadiran si penciptanya, yang dalam seni pencipta itu disebut seniman. Seniman adalah pencipta sebuah karya seni dan ia paham betul seluk-beluk ciptaannya dari mulai material yang digunakan sampai pada teknik penggarapannya. Akan tetapi, terkadang ia tak terlalu mempedulikan mengapa ia harus menciptakan karya ini sedemikian rupa, juga apa alasan karyanya harus hadir dan hidup di dunia ini. Bila seorang seniman menyadari kesadaran akan penciptaan karyanya, maka hubungannya dengan karyanya akan semakin mendalam. Tak perlu jauh-jauh ia memahami karya seni dan proses penciptaan seniman lain, yang terpenting adalah memahami mengapa karyanya harus ia hidupkan. Setelah diri seniman sebagai individu yang menciptakan karya seni menyadari pentingya karya seninya untuk hidup, dan hubungannya dengan proses penciptaanya berkesinambungan, maka akan menghasilkan seniman dengan rupa karya seni yang khas. Karya seninya akan terlihat dan terasa unik, berbeda dari karya seni yang lain. Ia menjadi identitasnya ketika ia hadri dan bicara kepada publik luas dalam sebuah pameran.

Di sisi lain adapun seniman yang dengan sesama seniman lain membentuk sebuah kelompok seniman sebagai wadah mereka berdiskusi, mematangkan gagasan satu sama lain, dan berkarya seni bersama. Kebersamaan ini pun kadang menjadi longgar di saat masing-masing seniman memilih berpendirian teguh pada keyakinan seni pribadinya. Namun lambat laun, seiring makin seringnya mereka bertemu dan berdiskusi, akhirnya makin terbuka satu-sama lain dan pada akhirnya tujuan tujuan mereka lebih kepada tujuan kelompok. Akhirnya yang mereka diskusikan adalah menyoal kepada identitas kolektif apa yang mereka akan tunjukkan kepada publik. Bebas saja mereka memilih sesuai kesepakatan yang ada di dalam dan kesepakatan ini tak bisa diganggu-gugat kecuali mereka sendiri yang mengganggu-gugat. Mau mereka menampilkan karya yang konvensional, maupun dengan metode yang sedikit melampaui kebiasaan mereka, seperti melibatkan masyarakat dalam menggarap sebuah proyek kesenian bersama, adalah kesepakatan yang masing-masing anggota kelompok sepakati sebagai identitas berkesenian mereka. Sama halnya seperti seniman yang bergerak secara individu, seniman atau kelompok seniman yang bergerak kepada tujuan memasyarakatkan seni dengan menggunakan seni rupa sebagai metode pendekatan, tentu harus sadar pula bahwa diri mereka adalah seniman yang memiliki landasan berpikir tentang kesenian dan ingin mengedukasi publik tentang ilmu mereka itu.

Pada saat mereka mampu menyadarkan masyarakat untuk mendekati level pemahaman akan seni yang sama dengan mereka, maka disanalah dengan mudah mereka bisa menyatukan tenaga dan pikiran guna melaksanakan proyek berkesenian mereka. Tentu kesemuanya harus dibuat mendalam, tidak hanya permukaan, dan kesadaran akan seni sebagai sesuatau yang hidup dan mengisi kehidupan apapun disekitarnya harus mau tidak mau dilalukan. Mengedukasi masyarakat tentang seni bukanlah semata berapa banyak buku dan katalog pameran yang dibagikan kepada mereka untuk mereka baca, tapi bagaimana menyadarkan mereka bahwa hidup mereka akan terisi oleh seni. Inilah sinergi yang dibutuhkan agar seni merasuk dalam diri masyarakat. Saat masyarakat menyadari bahwa hidup mereka sedang dirasukki oleh seni, maka hidup mereka akan mengikutinya.

Tentunya mengedukasi masyarakat menggunakan seni rupa atau tentang seni rupa jangalah atas paksaan untuk mengubah. Biarkanlah proses itu berjalan secara alami. Sebagai inisiator, seniman atau kelompok seniman yang melakukan hal itupun jangan juga dibebani oleh pikiran harus membuat masyarakat mengerti tentang seni rupa. Dengan terus-menerus melibatkan masyarakat dalam sebuah proses berkesenirupaan, lama-kelamaan masyarakat pun semakin sadar tentang pentingnya seni rupa bagi kehidupan mereka. Seni, terutama seni rupa, akan menjadi bagian hidup dalam diri masyarakat, karena oleh si seniman bibit kecintaan terhadap seni rupa telah ditanamkan dalam hati masyarakat yang ia ajak berkolaborasi. Pemupukan ini pun harus dibarengi dengan penyiraman, penyiangan, dan perawatan sehingga menimbulkan kepedulian untuk melestarikan. Semua pada dasarnya, dilakukan sepenuh hati, murni untuk kehidupan seni itu sendiri. Bagaimana prakteknya? Dikembalikan kepada seniman masing-masing.

Penulis yang Menafsirkan Jiwa dalam Karya Seni dan Penciptanya

Sebagaimana kita tahu, karya seni adalah sebuah percikan jiwa senimannya. Ia diberi nafas dan hidup untuk pada akhirnya berbicara secara jujur kepada publik yang melihatnya. Agar publik lebih dekat dengan sebuah objek seni, dalam hal ini adalah karya seni rupa, maka diperlukan seorang sosok yang tidak sembarangan untuk membantunya. Sosok itulah biasa kita sebut kurator seni rupa atau kritikus seni rupa atau penulis seni rupa. Mereka-mereka inilah yang menyampaikan ilmu si seniman—yang terepresentasikan melalui karya seni rupa—dalam sebuah wacana yang dapat dibaca publik sebagai pedoman dan lebih jauh sebagai ilmu pengetahuan.

Baik kurator seni rupa maupun kritikus seni rupa yang bertugas menerjemahkan suatu bahasa rupa kedalam bahasa tulisan haruslah menyampaikan sesuai dengan apa yang ingin disampaikan si seniman melalui karya seni rupanya. Ia harus mampu menelusuri kedalam prose pentiptaan si seniman, kedalam psikologi si seniman, kedalam pikiran-pikiran si seniman, dan kedalam usaha-usaha atau perjuangan-perjuangan si seniman demi mewujudkan nilai estetiknya. Bagaimanapun metode penulisan seorang penulis seni rupa,haruslah ia menyentuh kepada hal-hal itu. Tak hanya berhenti kepada pembahasan mengenai isu tertetntu yang sebenarnya hanya latar belakang si seniman dalam berkarya. Kritikus seni rupa sebenarnya memiliki tugas lain menjelaskan tentang apa-apa saja yang terkandung dalam sebuah karya seni rupa, tentang nilai estetiknya. Tapi juga ia harus mampu memberikan masukkan atau rekomendasi kepada seluruh pelaku seni rupa yang ia kritik sesuai dengan apa yang mereka butuhkan dan inginkan, bukan keinginan pribadi si kritikus yang ingin orang lain menuruti apa katanya, tapi sebenarnya yang ia sampaikan adalah keinginannya sendiri yang terpendam tapi tak bisa ia lakukan sehingga ia lontarkan kepada orang yang ia kritik sebagai sebuah “masukkan”.

Menafsirkan bahasa rupa kedalam bentuk tulisan memang dibutuhkan pengasahan ke arah dalam. Sama halnya seperi sosok seniman, penulis seni rupa juga harus mampu menggiring jiwanya kedalam jiwa seniman seperti bagaimana dijelaskan sebelumnya. Dengan demikian, tulisannya akan menjadi sebuah karya seni pula. Karena nilainya sama dengan kualitas nilai karya seni yang ia tulis. Kepekaan seorang penulis (baik kurator maupun kritikus) dibutuhkan untuk memetakan mana objek kesenirupaan (baik pameran maupun karya seni) sesuai dengan standar yang mereka yakini. Tentunya standar-standar itu berdasarkan ilmu yang mereka pelajari masing-masing dan bagaimana akhirnya ilmu-ilmu itu mereka olah dan kembangkan.

Kesimpulan

Dunia seni rupa kontemporer adalah dunia yang berwarna. Kadang ia dilihat sebagai medan perang ideologi, kadang ia dilihat sebagai sebuah taman eden yang membuat diri setiap manusia di dalamnya merasa nyaman. Persepsi seperti apapun tentang seni rupa tempo dulu maupun masa sekarang, teruslah seperti itu. Terkesan tak berubah atau jalan ditempat. Namun cobalah mengubah sedikit paradigma diri kita tentang suatu yang lebih dari itu,lebih dari hanya persoalan-persoalan, dan lebih daripada pertentangan. Seni rupa bukanlah sebuah objek permasalahan. Ia adalah sesuatu yang organis, hidup dan bernafas. Ia telah menyatu dalam diri manusia, di pelosok jiwa yang terdalam. Bisa dikatakan semua manusia cinta seni, dari hanya seni yang indah-indah, sampai seni yang canggih.

Mari kita lihat seni rupa dan nilai-nilainya sebagai sebuah kehidupan. Ia bisa dibawa ke ranah ilmu pengetahuan manapun baik filsafat maupun sosial. Intinya adalah perihal jiwa masing-masing pelakunya yang meminta pengakuan. Ia meminta untuk diterima, didukung, dan dipersilahkan untuk melanjutkan kehidupan. Bukan dikhiati, dimatikan, dan dimusnahkan demi satu pandangan atau faham tunggal mengenai idealisme tertentu tentang seni. Kita harus mengerti sifat universal seni yang hidup di dalam diri masing-masing seniman sesuai kapasitasnya atau porsinya. Bila seseorang lebih dirasukki lukisan mooi-indie dibanding lukisan Masriadi, tak bisa diarahkan untuk menyukai karya Tisna Sanjaya. Bila seseorang menyukai karya patung Michelangelo, jangan dipaksa-paksa untuk mengerti karya seni Duschamp. Toh kalau mereka sepenuh hati mencintai seni karena keluhuran nilai sucinya, mau bentuk seni apapun akan dihargai sebagai sebuah karya luhur yang canggih yang merupakan hasil intelektualitas manusia.

Tentu berat bila kita harus mengubah cara pikir dan cara pandang masyarakat luas agar terbuka kepada seni rupa sebagai sebuah ilmu pengetahuan luhur yang harus dihargai. Minimal dari para pelaku medan seni rupa kontemporer kita yang sedikit itu, haruslah sepenuhnya sadar akan nilai esensial seni yang luhur itu. Cara menyedarinya pun bermacam-macam, ada yang terus memutar otak untuk merangkai-rangkai jawaban atas keraguannya tentang teori-teori lain yang menjabarkan nilai-nilai seni, ada pula yang lebih menghayati keyakinan dirinya tentang nilai-nilai terdalam dalam dirinya tentang seni. Mau apapun caranya adalah hal yang normal sebagai manusia untuk mencari sesuatu yang ideal. Tentu yang ideal itu adalah nilai yang tidak dicari atau dituju sebagai tujuan akhir, tapi sesuatu yang harus didalami, diamini, disadari, dan diyakini, karena pada dasarnya ia sudah ada dalam diri masing-masing manusia.

Ideologi Seni Rupa Kontemporer yang Ideal Menurut Penulis

Menurut  pandangan saya

Dalam berpraktik kesenian khusus seni rupa yang sejauh ini penulis lakukan (bila berbicara wacana dalam berkarya) mungkin sama seperti seniman lain melakukan pengamatan kepada masyarakat, namun sedikit lebih mendekati masyarakat dan mengajak masyarakat untuk melakukan praktik berkesenian, Dalam praktik yang penulis lakukan mencoba masuk kedalam masyarakat dan menjadikan diri saya lebur kedalam masyarkat dan melihat dari perpektif masyarakat yang beragam. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui lebih jauh persoalan sosial-budaya yang ingin saya angkat. Namun pada awal pengusungan wacana yang penulis sudah melakukan pengamatan personal dan ketertarikan dalam sebuah fenomena tertentu.

Alasan penulis melakukan praktik tersebut, pada dasarnya masyarakat yang penulis ajak sebagai partisipan dalam berkarya agar masyarakat lebih cair terhadap kesenian tersebut dan juga merasakan kepemilikan akan kesenian itu sendiri. Selain itu penulis merasa perlu mengajak masyarakat untuk melakukan kesadaran kritis dalam menghadapi sebuah fenomena, harapannya agar nanti memberikan efek domino di masyarakat dan untuk dimasyarakat lainnya. Kesadaran agar lebih peka terhadap situasi lingkungannya sendiri, kesadaran akan memberikan efek kejanggalan yang terjadi sebagai fenomena itu sendiri. Karena di era yang serba carut-marut ini praktik tersebut perlu dilakukan, walau tidak memberikan efek secara langsung kepada masyarakat.

Posisi penulis dalam praktik berkesenian ini tidak secara efektif da efesien memberikan jawaban atas sebuah permasalahan, namun dalam praktik ini penulis mencoba memberikan "pemantik" atau "senjata" kepada masyarakat, "pemantik" tersebut membuka ruang dialog antara masyarakat dengan fenomena tersebut, masyarakat dengan penulis sendiri. Sebuah praktik berkesenian menjadi penting bila tidak penulis sendiri melakukan praktik tersebut, namun ada peran masyarakat dalam praktik berkesenian.

Memang masih banyak percobaan model yang dilakukan dalam praktik ini dan praktik ini tidak sepenuhnya berjalan sesuai ekspetasi awal, terkadang kejadian-kejadian diluar dugaan menjadi sesuuatu yang penting pada praktik ini dilakukan, karena itulah kenyataannya masyarakat tidak bisa diprediksi walau masyarakat bisa dikontruksi oleh beberapa pihak.

Praktik ini tidak sepenuhnya ideal bagi penulis sendiri dan jauh dari kata sempurna, Percobaan-percobaan dan strategi perlu dilakukan dalam praktik ini. Seperti strategi presentasi yang dilakukan untuk praktik seperti ini, agar masyarakat mengerti bahwa praktik ini menjadi praktik dan melihatnya dalam kesadaran seni rupa. Ketika praktik ini dilakukan dalam ruang presentasi atau ruang pamer, terkadang masyarakat masih belum melihatnya sebagai sebuah kesadaran seni dalam praktik seperti ini, tapi bagi penulis sendiri apakah kesadaran tersebut masih relevan hari ini, karena dalam pandangan penulis kesadaran akan sebuah fenomena dan terciptanya ruang dialog jauh lebih penting ketika apresiator menghadapi karya-karya dengan pendekatan praktik yang dilakukan penulis. Dengan alasan ketika terjadi perubahan dalam masyarakat, masyarakat sudah memiliki kesadaran kritis untuk berdialog dengan fenomena tersebut.

ANALISIS SEMIOTIKA POSTER PROPAGANDA VIETNAM UTARA DALAM PERANG VIETNAM

ABSTRAK
Poster propaganda merupakan sebuah penyampaian ide kepada publik yang lebih luas untuk memberikan efek tertentu bagi publiknya. Pada perang Vietnam yang pecah pada tahun 1954, otoritas Vietnam utara khususnya banyak membuat poster-poster propaganda untuk membangkitkan semangat perlawanan kepada Sekutu. Pada analisis ini menggunakan teori C.S. Peircesebagai pendekatan analisis semiotika untuk membedah salah satu poster propaganda Vietnam. Bahwa pada akhirnya posterpropaganda ini memberikan informasi dan semangat kepada rakyat Vietnam untuk melawan serangan-serangan dari Amerika  Serikat.
  1. PENDAHULUAN

Vietnam merupakan salah satu negara di Asia Tenggara. Setelah berhasil mengusir Prancis di tahun 1945, pada tahun 1954 hingga 1975 terjadi perang antara Vietnam Utara yang di bantu oleh Uni Soviet dan China dengan Viertnam Selatan yang di bantu oleh Sekutu, Perang tersebut merupakan bagian dari Perang Dingin yang mempertemukan 2 kubu ideologi besar Komunis dan Liberal.

Selama terjadinya perang tersebut, Para seniman di Vietnam membuat poster-poster propaganda yang dihasilkan untuk membangun kekuatan. Dalam sejarah yang tercatat, saat perang melawan Prancis pecah di tahun 1946, Indochinnese School of Art ditutup dan para profesor dan muridnya pergi mengikuti Ho Chi Minh masuk kedalam hutan untuk berlindung. Disana mereka memulai untuk membuat propaganda seperti poster, ilustrasi leaflet, koran hingga billboard, Setelah kondisi damai terjadi, Indochinnese School of Art kembali dibuka dengan mengundang beberapa profesor dari Soviet dan dengan rutin mengirimkan murid-murid mereka ke Soviet dalam program pertukaran (Artbook 2013). Hal tersebut yang menguatkan karakter visual pada poster-poster propaganda Vietnam bergaya ala Soviet.

Propaganda merupakan penyebaran ide kepada populasi yang besar. Progandan sendiri muncul sebagai istilah netral tanpa adanya konotasi negatif di dalamnya. Pada abad 17, Gereja Katolik Roma membuat proganda untuk membawa banyak jemaah masuk ke Gereja. (Lester 2003). Pada Perang Dunia I, Poster propaganda digunakan untuk membangkitkan patriotisme, menyebar kebencian terhadap musuh, pengorbanan dan upaya untuk menyentuh setiap aspek dalam perang berlangsung (Lapides 2011). Poster merupakan salah satu media untuk melakukan propanganda. Dalam hal ini poster propanda yang di lakukan otoritas Vietnam untuk tujuan membakar semangat dan patriotisme rakyatnya untuk menghadapi musuh.

Semiotika merupakan suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda (Sobur 2004). Semiotika dikenal dengan beberapa istilah, yaitu semotika dan semiologi, yang mana semuanya bidang studi yang mempelajari makna atau arti dari suatu tanda atau lambang (Sobur 2004). Dalam perkembangannya semiotika dibagi menjadi 2, semiotika struktural dan semiotika komunikasi.

Dalam analisis ini penulis memilih poster propaganda yang digunakan Vietnam Utara dalam pertempuran menghadapi Amerika Serikat (Sekutu). Pemilihan didasari karena ketertarikan penulis terhadap hal-hal yang berbau militer, sejarah dan perang. Gaya visual dalam poster progandan Vietnam juga menjadi daya tarik tersendiri, dengan karakter visual sama dengan karakter visual Uni Soviet.

2. PENDEKATAN TEORI

Semiotika merupakan suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda (Sobur 2004). Semiotika dikenal dengan beberapa istilah, yaitu semotika dan semiologi, yang mana semuanya bidang studi yang mempelajari makna atau arti dari suatu tanda atau lambang (Sobur 2004). Dalam perkembangannya semiotika dibagi menjadi 2, semiotika struktural dan semiotika komunikasi.

Pada bagian penulis akan menjelaskan teori yang digunakan dalam analisis ini. Penulis menggunakan pendekatan semiotika komunikasi oleh Charles Sanders Peirce, yang mana berlandaskan pada filsafat. Dalam teori Peirce menjelaskan hubungan triadik antara representament (sign), interpretant dan object, Yang mana suatu tanda bukan suatu entitas yang sendirian namun memiliki ketiga aspek tersebut (Sobur 2004).

Pendekatan teori semiotika komunikasi Peirce dipilih penulis karena teori ini menurut penulis tergantung pada penafsirnya, karena dalam teori ini terdapat beberapa pilihan arti dari sebuah tanda, dan hal tersebut membuat kemungkinan multi tafsir, karena didasari dengan beberapa penggalaman dari sang penafsirnya itu sendiri.

2.1 Teori dan Prinsip

Berdasarkan teori Peirce masing-masing hubungan triadik dibagi menjadi beberapa turunan. Kali ini penulis menggunakan prinsip-prinsip tanda pada teori Peirce yaitu berdasarkan representament adalah qualisign, sinsign, legisign, berdasarkan objeknya adalah indeks, symbol dan icon serta berdasarkan interpretant yaitu rheme, dicent sign dan argument.

3. ANALISIS

Penulis memilih salah satu poster propagandan yang di gunakan oleh Vietnam Utara, secara khusus poster ini digunakan oleh Vietnam Utara sebagai perlawanan terhadap Amerika Serikat. Yang dimana pada saat itu, Amerika Serikat mengirimkan pasukan udara-nya ke daerah Vietnam Utara.

 

Gambar 1 Salah satu poster propaganda Vietnam. Sumber : Buku Vietnam Posters & Billboards

Pada saat itu, salah satu propaganda yang dihasilkan adalah menyerang tenaga kekuatan udara Amerika Serikat, Otoritas mengerahkan pria dan wanita untuk terus melawan

. 

4. KESIMPULAN

Berdasarkan analisis di atas dapat disimpulkan bahwa :

  1. Poster Proganda Vietnam tersebut untuk membangkitkan semangat perlawanan rakyat Vietnam untuk melawan serangan-serangan dari Amerika Serikat.
  2. Poster propanda tersebut juga sebagai informasi untuk rakyat Vietnam bahwa banyak pesawat-pesawat Amerika Serikat bisa jatuh dengan serangan dari pasukan Vietnam dengan senjata seadanya.

5. DAFTAR PUSTAKA

Artbook. Vietnam Posters and             Billboards. Hanoi: Artbook,             2013.

Lapides, Jim. Juni 28, 2011.             http://www.artfixdaily.com/artwire/r            elease/5237-the-history-of-the-l            ithographic-propaganda-poster             (accessed Desember 16, 2016).

Lester, Paul Martin. Visual             Communication.             Belmont:             Wadsworth, 2003.

Sobur, Alex. Semiotika Komunikasi.             Bandung: PT Remaja             Rosdakarya, 2004.

Piliang, Yasraf Amir. Semiotika dan             Hipersemiotika. Bandung:             Matahari, 2010.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Essay Habermas "Modernity-Incomplete Project" dan Kondisi Seni Rupa Saat ini

Dalam peradaban manusia selalu terjadi perubahan, baik secara bertahap atau radikal sekalipun. Ketidakpuasan selalu muncul terhadap rezim yang sedang berkuasa. Terlebih kekuasaan tersebut berlangsung dengan waktu yang lama. Begitu juga dengan konsep pembabakan estetika di Eropa yang dipengaruhi pola manusia dan relevansi zaman. Timbul sedikitnya kekecewaan yang mempengaruhi perubahan ide tersebut. Dan membawanya pada kelompok-kelompok yang menolak sebuah ide yang sedang berlangsung.

Moderinitas muncul sebagai upaya merespon keberlangsungan era klasik yang berlangsung di Eropa. Tentu saja seiring dengan kebudayaan dan tradisi yang berjalan di Eropa saat itu. Sebuah bentuk perlawanan antar sejarah yang sedang bergulir saat itu. Jürgen Habermas seorang filsuf dan sosiolog kelahiran Düsseldorf Jerman, mengatakan bahwa modernisme adalah bentuk perlawanan terhadap cita-cita klasik yang mana modernisme melihat perkembangan ilmu pengetahuan yang terus berkembang dan meninggalkan tradisi yang di anggap kuno dan tidak rasional di Eropa pada zaman itu. Tingkat kesadaran dan logika yang digunakan dalam peradaban modern, Hal tersebut seiring berjalannya perkembangan seni dan ilmu pengetahuan. Lepasnya seni dari otoritas agama yang berlaku saat itu di Eropa menjadi bagian yang sangat kental dalam munculnya perkembangan modernism di Eropa. Sebuah bentuk kekecewaan yang wajar terjadi di tengah sistem yang mendominasi tidak berjalan dengan baik. Hal tersebut dimulai secara ideal di abad 19, walau Habermas sendiri juga menganggap hal tersebut belum cukup ideal sebagai munculnya modernism secara utuh.

Estetika modernism terus berlangsung dengan perkembangan kebaruan-kebaruan yang otonom. Seni dianggap setara dengan ilmu pengetahuan dan terus dikembangkan dengan berbagai metode. Siapa yang baru, dia yang maju. Mungkin istilah itu cocok untuk kurun waktu saat itu di Eropa. Hingga pada medio 1960 muncul kelompok-kelompok garda depan memberikan perlawanan terhadap perkembangan estetika modernism.

Bagaimana dengan modern di Indonesia? Menurut asumsi saya sebagai sebuah peradaban mungkin terjadi di Indonesia. Nilai-nilai modernism muncul di masyarakat khususnya perkotaan di Indonesia, gaya hidup, sosial politik dan sistem pemerintahan yang berlaku. Walau tidak secara menyeluruh, adaptasi modern di Indonesia masih terdapat saringan secara tidak sadar dalam masyarakat di Indonesia. Terbukti dengan masih berlakunya kultur tradisi yang berlangsung di beberapa daerah di Indonesia. Adopsi secara tidak menyeluruh yang di adaptasikan dengan kebutuhan masyarakatnya. Agama masih menjadi salah satu isu yang sangat sensitif di Indonesia. Apa yang dikatakan Habermas dalam esai nya yang berjudul "Modernity-Incomplete Project" beberapa poin yang di sebutkan Habermas salah satunya adalah analisis terhadap ide Max Weber yang melakukan pemisahan yang dinyatakan agama dan metafisika menjadi 3 bidang otonom yaitu ilmu pengetahuan, moralitas dan seni, nampaknya itu tidak berlaku di Indonesia. Bagaimana pemisahan hal tersebut masih bisa merasuki masyarakat Indonesia sepenuhnya? saya berasumsi tidak terjadi di Indonesia, Kita bisa melihat beberapa masyarakat yang masih percaya tahayul, klenik dan Khurafat, Di pulau Jawa yang menjadi kunci negara ini pun, beragam budaya masih menganut dan menjalankan ide tentang hal-hal mistis secara tradisi. Agama juga menjadi isu dominan di Indonesia, Konflik mengatasnamakan agama masih sering tersulut di Indonesia.

Lalu bagaimana dengan seni modern di Indonesia? Apakah kita menggalami seni modern di Indonesia? Melihat ide seni modern yang di ungkapkan oleh Habermas, bahwa seni modern menjadi ledakan sejarah dari seni klasik yang menjadi otonom dan melakukan pembaruan hingga pada akhirnya mentok dan dinyatakan belum selesai oleh Habermas. Saya berpendapat secara citra artistik mungkin kita menggalami apa yang dinamakan seni modern hingga saat ini, kita masih bisa mengkomsumsi karya-karya seni khususnya seni rupa secara "modern", namun melihat berdasarkan sejarah dan ide tentang seni modern itu sendiri, apakah kita merasakannya? dimana ditahun 1945 kita baru menjadi negara yang merdeka. Bila menilik dari urutan sejarah apa yang dilakukan masyarakat di Indonesia di abad ke 18, waktu dimana seni modern muncul secara ideal di Eropa sana. Apakah kita sebagai masyarakat melakukan praktik kesenian secara konsep modern yang terlepas dari klasik ataupun tradisi saat itu?

Apa mungkin seni modern masuk dengan terlambat di Indonesia? Saya rasa tidak. Berdasarkan latar belakang budaya dan sejarah antara Eropa dan Indonesia itu jelas berbeda. Masih bisa kita lihat bahwa seni tradisi masih masuk menjadi bagian tradisi masyarakatnya, Seperti batik yang tidak bisa dengan kebudayaan, wayang, patung Tao-tao di masyarakat Toraja yang menjadi bagian dari ritual kepercayaan mereka hingga saat ini. Walau terlihat perubahan bentuk dan fungsinya, namun pada inti masih menjadi bagian dari tradisi. Bagaimana dengan masa pra-kemerdekaan di Indonesia. Realisme sosial menghasilkan karya-karya dengan konteks artistik modern seperti yang dikutip Yustiono dalam tulisannya yang mengutip dari sejarawan seni yang fokus meneliti seni di Indonesia. Holt menyimpulkan 3 hal munculnya seni rupa modern di Indonesia, seperti kemunculan ide, bentuk dan sikap baru yang menyimpang secara dramatis dari seni tradisional, hal tersebut ditunjukan dengan sikap keakuan dari sebuah karya. Yaitu perubahan drastis dalam patronase seni, keraton tidak lagi mendukung seniman atau pekriya dalam hal ini otonomi seni dan seni rupa Indonesia mencerminkan kreativitas seniman yang ragu. Dalam tulisannya Yustiono mengutip pernyataan Sanento Yuliman yang mengatakan bahwa seni rupa tradisi dan seni rupa modern di Indonesia berjalan beriringan dan mendapat dukungan dari publiknya yang berbeda. Jadi seni rupa modern di Indonesia, hanya mengadaptasi dan mengadopsi perkembangan zaman yang relevan dengan masanya.

Bagaimana dengan postmodern di Indonesia? kaum avant-garde yang muncul era 1960an di Barat. Apakah hal tersebut terjadi di Indonesia? Gerakan Seni Rupa Baru melakukan aksi Desember Hitam banyak orang yang menilai sebagai aksi pembaruan dalam seni rupa di Indonesia. Namun Aminudin TH Siregar berpendapat lain, dalam esainya yang berjudul "Seni Rupa Kontemporer Indonesia” Dirintis GSRB? Hmmmm...." mengatakan bahwa aksi mahasiswa atau seniman muda yang mennyerempet tabu, provokasi dan mencari perhatian. Sebuah gerakan yang mencoba membuat kebaruan yang berguna dan hidup di masyarakat. Sebuah aksi semangat mahasiswa yang berjiwa memberontak, bukan sebagai gerakan avant-garde di Indonesia (Siregar 2010). Lalu bagaimana siapa yang memulai avant-garde di Indonesia? Apakah kelompok seniman asal Jakarta dengan nama ruangrupa? di awal tahun 2000, pasca tumbangnya rezim orde baru, mereka berkomunal membuat sebuah ruang dan kolektif seniman, mereka mencoba membaca situasi kondisi seni rupa kontemporer di Indonesia khususnya di Jakarta, mengkaji bersama seni video, seni media, performance art dan lain sebagainya. Mengundang seniman-seniman muda khususnya mahasiswa untuk bereksperimen bersama melakukan hal-hal praktik-praktik seni rupa yang tidak ada batasnya, membuat festival seni video berskala Indonesia dan mengarsipkannya. Secara artistik ada kesegaran visual yang dihasilkan ruangrupa dengan hasil eksperimentasi mereka. Bahwa ruangrupa melihat peluang celah dari patron seni yang dilakukan sebelumnya oleh pendahulu mereka. Dan apakah mereka disebut gerakan avant-garde yang berangkat dari kelanjutan artistik dan praktik kesenian yang dilakukan oleh praktisi seni sebelumnya?

PENTINGNYA SENI BAGI KEHIDUPAN PADA ABAD 21 DI INDONESIA

Menuju Seni pada Abad 21

Dalam perkembangannya seni berjalan seiringan dengan peradaban manusia. Banyak praksis yang memikirkan kembali seni dan menjadi siklus yang tidak ada ujungnya. Bila dilihat dari kajiannya, seni terdiri dari filsafat yang mempengaruhi teori seni dan estetika serta ilmu empiris yang menyumbangkan kepada estetika dan teori seni. Perkembangan pemikiran tentang estetika terus menerus dilakukan, mulai dari Plato hingga Ludwig Wittgenstein, dan hingga hari ini banyak pemikir, seniman dan praktisi lainnya yang terus menggali atau mewacanakan estetika dan seni pada umumnya. Begitupun dengan perkembangan seni sesuai dengan zamannya dari zaman pra-sejarah, baroque, neo-classicism, romantisme, impresionisme hingga zaman modern bahkan post-modern. Berbagai metode dalam seni muncul sebagai proses penciptaan untuk mendapatkan tujuan dari karya seni mulai dari mimikri, ekspresionis, seni sebagai bentuk, seni sebagai simbol hingga seni sebagai tanda. Dan sesuai zamannya seni terus berkembangan mulai dari zaman pra-modern hingga post-modern atau bahkan kontemporer sekalipun. Begitupun dengan isu atau wacana dalam karya seni, perkembangan mulai dari isu personal hingga isu global yang mewacanakan sosial-politik, ekonomi serta kebudayaan masyarakat secara lebih luas.

Pergerakan wacana geopolitik Dunia secara global. Semakin kuatnya gagasan globalisasi, globalisme dan global turn seringkali dipercayai berkaitan dengan gagasan mengenai 'kontemporer' secara mendunia. Globalisasi mempengaruhi peta konstelasi seni rupa Dunia yang mengarah pada wacana global. Bila diawal gagasan globalisasi secara artistik muncul dengan hadirnya garda-depan awal di Eropa dan selanjutnya terjadi di negara Amerika Serikat yang berakibat meluasnya perilaku artistik sampai di luar Amerika Serikat, dengan ditandai pusat yang berpindah dari Paris menuju New York. Kejadian politik seperti runtuhnya Tembok Berlin, berakhirnya politik apaertheid di Afrika Selatan dan demonstrasi pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen China telah membuat beberapa seniman pada dekade sebelumnya menginginkan kepada apresiator untuk menanyakan kondisi yang ada dan hubungan seni dan kebudayaan secara umum, kejadian politik Dunia ini memaksa kita untuk mempertimbangkan kembali dari ideologi, subjektifitas dan kebertundukan, nasionalisme dan identitas post-kolonial.

Di Tahun 1989 ditandai dengan pameran Magiciens de la Terre yang diselenggarakan di Centre Georges Pompidou dengan kurator Jean-Hubert Martin. Pameran ini disebut dengan istilah global turn dalam dunia seni rupa global, Jean-Hubert Martin memilih seniman 50% dari Barat dan 50% non-Barat, dalam pameran ini mencoba menekankan gagasan kekontemporerannya. Selain itu munculnya beberapa biennale di beberapa kota seperti di Johannesburg pada tahun 1995, satu tahun setelah pemilu pertama multirasial di Afrika Selatan. Pada biennale yang dikuratori Enwezor mengangkat secara ekplisit seputar tema globalisasi. Setelah itu di Gwangju pada tahun yang sama dengan latar belakang pemilu demokrasi pertama yang sesbelumnya merupakan dekade panjang kediktatoran militer di Korea Selatan. Melihat fenomena tersebut merupakan tanda bagaimana isu globalisasi seperti sosial-politik dan ekonomi mempengaruhi medan seni rupa secara global.

Seni di Abad 21 dan Globalisasi

Hal diatas menjadi salah satu faktor pendorong perubahan paradigma di abad 21. Efek dari isu dan masalah global yang terus menerus mencuat memunculkan juga interaksi global. Dan perkembangan interaksi global tersebut menyebabkan perubahan sistem yang ter-dekontruksikan. Paradigma ini bersifat paradoksal, bersifat 2 arah atau istilah Prof Primadi menyebutnya dengan dualisme-dwitunggal. Berakhirnya Perang Dingin membuat konstelasi seni mengarah pada multikultur atau multiestetik, Barat bukan sebagai pusat, namun dunia Non-Barat pun mulai dilihat sebagai potensi baru. Yinka Shonibare seorang seniman kelahiran London mencatat bahwa globalisasi membuat kesempatan yang fantastis untuk seniman-seniman Non-Barat sebagai pengakuan medan seni rupa Internasional, Seperti, Havana Biennale yang digelar untuk menyoroti seniman dari Negara Dunia Ketiga ke panggung seni rupa global. Hal tersebut sangat diperlukan sebagai demokratisasi dalam dunia seni rupa global, bahwa pusat tidak dibentuk di Negara-Negara Barat saja, namun Negara Non-Barat perlu menjadi pusat dan berkontribusi dalam medan seni rupa global. Kontribusi yang dijadikan pengetahuan yang bersifat kolektif dan egaliter yang pada tingkat lebih tinggi lagi menjadi penggalaman kognitif untuk apresiatornya, seperti pernyataan Cynthia Freeland yang menyebutkan "bahwa karya seni merangsang kita untuk melihat dunia".

 

Urgensi Seni dalam Realitas Kehidupan di Indonesia

Perubahan paradigma seni di abad 21, ditandai pula dengan karakter yang cukup kongkrit seperti seni membaur dari kehidupan. Perubahan ini seperti mengembalikan fungsi seni di zaman seni tradisi, yang mana seni menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Muncul nya interaksi seni tinggi (high art) dan seni rendah (low art). Seni yang berintergrasi dengan kehidupan diperkuat dengan kondisi pasca Perang Dingin, yang mana wacana yang dicoba diutarakan oleh seniman khususnya di Negara Dunia Ketiga, berkutat dengan isu indentitas, hal tersebut membuat karya seni menjadi sebuah pengetahuan kolektif yang terus dipertanyakan terus menerus, hal ini sejalan dengan pemikiran Hans-Georg Gadamer yang menyebutkan bahwa penggalaman estetis pada dasarnya adalah modus pemahaman diri.

Di Indonesia wacana seni tentang identitas, terlebih sebagai identitas budaya salah satunya dilakukan oleh seniman Tisna Sanjaya, dalam proses penciptaannya Tisna menggunakan tradisi yang mengakar dalam dirinya yaitu kesundaan sebagai salah satu proses berkaryanya, dalam istilah yang sering digunakan yaitu 'seni adalah doa'. Dapat dicermati bahwa doa yang merupakan bagian keseharian dari kegiatan masyarakat masuk kedalam wilayah artistik oleh seniman. Dimana Tisna yang sering berpameran dalam kancah internasional menggunakan proses kreatif tersebut dan mendapat sambutan yang cukup hangat dalam event-event seni rupa Dunia, seperti Vennice Biennale pada tahun 2003.

Selain itu kelompok Jatiwangi Art Factory yang berbasis di Jatiwangi, Majalengka Jawa Barat juga menggunakan pendekatan konteks kelokalan sebagai metode berkarnya. Wacana identitas juga menjadi fokus dalam gagasan-gagasan projek yang mereka jalankan. Dalam proses kreatifnya Jatiwangi menggunakan pendekatan kepada warga sebagai proses kerjanya, Warga diajak untuk merasakan penggalaman estetis dengan tujuan membuka kemungkinan baru, membentuk identitas, kontemplasi dan mengkontruksi persepsi. Tidak hanya Jatiwangi Art Factory, Kerja-kerja partisipatif semacam ini juga telah dilakukan oleh beberapa komunitas atau agen-agen kebudayaan, seperti pada tahun 1985 Moelyono melakukan KUD (Kesenian Unit Desa) di Tulungangung yang sekarang dikenal dengan seni rupa penyadaran, sebuah projek yang melibatkan masyarakat desa dalam proses kerjanya. Selain itu Komunitas Hysteria yang juga menjadi salah satu penggerak kesenian di Kota Semarang dan sekitarnya menggunakan kerja partisipatif dengan masyarakat khususnya kalangan anak muda. Dan tentu masih banyak lagi pelaku kegiatan kesenian yang melibatkan masyarakat dan mewacanakan identitas sebagai penggalaman estetisnya.

Mengacu pada pemikiran seorang seniman periode fluxus kelahiran Krefeld Jerman yang mengatakan bahwa :

Every human being is an artist, a freedom being, called to participate in transforming and reshaping the conditions, thinking and structures that shape and inform our lives.

Bahwa setiap orang adalah seorang seniman yang bebas untuk mengubah dan membentuk kondisi itu kembali dan berhak untuk memberikan informasi untuk kehidupan kita. Pendapat tersebut senada dengan pemikiran yang disampaikan oleh Pauolo Freire seorang pakar pendidikan dan filsuf asal Brazil yang menawarkan pendidikan kritis, yang mana pendidikan itu adalah salah satu proses pencarian kebenaran dan alat untuk pembebasan diri. Bagi Freire yang dipengaruhi oleh pemikir-pemikir seperti Plato, Aristoteles dan Marxis. Freire yang merasakan bahwa sistem pendidikan yang selamat ini ia rasakan telah membelenggu pemikiran-pemikiran peserta didiknya, dia beranggapan bahwa sistem pendidikan Negara Dunia Ketiga seperti Brazil pendidikan mengasingkan diri masyarakat dari realitas kehidupannya dan menjadi alat bagi masyarakat untuk tunduk dan patuh terhadap pemerintah (Murtiningsih 2004). Kembali kepada Joseph Beuys yang berpikir bahwa karya seni itu sekilas seperti kehidupan itu sendiri, dia tidak ingin menciptakan karya seni yang abadi tetapi membuat memulai pemikiran orang tentang realitas (Reucher 2006). Pada kedua orang ini memiliki kesamaan yang cukup signifikan, yang mana karya seni menjadi sebuah proses pembelajaran atau informasi bagi masyarakat tentang realitas dan masyarakat berhak memikirkan kembali dan mempertanyakan realitas tersebut.

Pada urgensinya kegiatan seni semacam itu dirasa cocok untuk dikembangkan oleh agen-agen kebudayaan di Indonesia, karena disamping mendorong kegiatan partisipastif yang mengajak masyarakat untuk bisa memberikan kontribusi secara langsung dengan cara menyumbangkan pengetahuan kolektif dan menjadi bagian dari pengetahuan kolektif tersebut. Bagaimana praktik kerja semacam itu juga dapat mendorong kesadaran dari sebuah penggalaman. Penggunaan kesadaran manusia akan realitasnya atau yang disebut dengan fenomenologi. Seperti yang disebutkan oleh Edmund Husserl, fenomenologi merupakan metode sekaligus filsafat yang menggariskan langkah-langkah apa yang harus dimulai manusia sebagai kesadaran murni (Murtiningsih 2004). Dan dengan begitu seni menyumbangkan kontribusinya secara langsung kedalam penggalaman kognisi kepada pelaku dan apresiatornya. Serta terjalinnya pengetahuan kolektif tersebut dengan ruang dialog sebagai refleksi-refleksi didalamnya, atau proses kognitif 2 arah. Seperti yang dilakukan komunitas Serrum, sebuah komunitas dengan fokus seni rupa dan pendidikan berbasis di Jakarta, Mereka menggunakan kerja partisipasi yang melibatkan murid SMA sebagai praktik kerjanya, Dalam salah satu projeknya yang dikerjakan pada tahun 2016 silam, mereka mempertanyakan kembali arti sekolah berdasarkan fisik, sistem dan budaya kepada murid-murid SMA, dimana dalam prosesnya murid-murid tersebut tersadarkan akan arti sekolah dan kembali mengevaluasi proses dan kondisi sekolah mereka kedalam diri mereka dan tentu saja proses reflektif kepada pihak sekolah. Dari hasil praktik tersebut, murid diajak untuk mepresentasikannya di depan teman-teman mereka dan hasil dari kerja partispasi tersebut disimulasikan menjadi sebuah presentaasi seperti diorama. Dengan begitu seni menjadi relevan berkembang di masyarakat Indonesia, melihat isu atau wacana sosial-politik, ekonomi dan kebudayaan yang makin hari makin tidak menentu. Atau mungkin lebih lanjut lagi seni hadir sebagai pengurai permasalahan yang terjadi sekarang ini.

Daftar Pustaka

Griffin, Tim. "Worlds Apart : Contemporary Art, Globlaization and the Rise of Biennals." In Contemporary Art 1989 to the Present, edited by Alexannder Dumbasde & Suzanne Hudson. West Sussex: Willy Blackwell, 2013.

Hodge, Susie. 50 Art Ideas. London: Quercus, 2011.

Moelyono. "Seni Rupa Penyadaran." Gerak-Gerak Seni Rupa. Mei 13, 2013. https://gerakgeraksenirupa.wordpress.com/2013/05/19/seni-rupa-penyadaran/ (accessed April 26, 2017).

Murtiningsih, Siti. Pendidikan Alat Perlawanan : Teori Pendidikan Radikal Paulo Freire. Yogyakarta: Resist, 2004.

Olivia, Achille Bonito. Seni Setelah Tahun Dua Ribu. Vol. 1. Yogyakarta: Biasa ArtSpace Little Library, 2011.

Reucher, Gaby. Joseph Beuys -- Artist Who Expanded Art's Boundaries. Januari 23, 2006. http://www.dw.com/en/joseph-beuys-artist-who-expanded-arts-boundaries/a-1866423 (Diakses Mei 3, 2017).

Suryajaya, Martin. Sejarah Estetika. Jakarta: Penerbit Gang Kabel, 2016.

Underthebluedoor. Under The Blue Door. Maret 5, 2015. https://underthebluedoor.org/2015/03/05/every-human-being-is-an-artist-a-freedom-being-called-to-participate-in-transforming-and-reshaping-the-conditions-thinking-and-structures-that-shape-and-inform-our-lives-joseph-beuys/ (Diakses Mei 3, 2017).