Performance

Sering Sering Syering : Mantra Matra

Pertunjukan Visual Audio

“MANTRA MATRA”

Moch Hasrul & Vanja Dabic

19:00 – till die

Lifepatch

Jl. Tegal lempuyangan DN III, Bausasran, Danurejan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55211

Mantra Matra adalah sebuah pertunjukan visual audio yang diinisiasi oleh Hasrul dan Vanja dalam Festival Performa Kaliwungu - Kendal, Jawa Tengah. Karya kolaborasi mereka bukan hanya sebagai bentuk eksperimentasi artistik dari masing-masing, tapi juga berusaha merepresentasikan soal-soal keseharian melalui gambar dan suara yang terproyeksikan. Selain itu, pertunjukan ini menawarkan narasi lain, tentang bagaimana suara dan gambar tidak terpenjara dalam sekuen-sekuen pembingkaian yang telah dikonstruksi oleh perangkat lunak dan keras dari komputer. Hal ini menarik untuk dilihat tentang bagaimana Hasrul dan Vanja menegasi konsep kosmos yang kerap menjadi ukuran utama dalam menilai sebuah karya seni suara dan gambar.

Edisi ketiga Sering Sering Syering akan menampilkan pembicara Moch Hasrul @mochhasrul & Vanja Dabic, berbincang mengenai kolaborasi pertunjukan visual audio mereka yang sempat ditampilkan di Festival Performa Kaliwungu - Kendal, Jawa Tengah. Karya kolaborasi mereka bukan hanya sebagai bentuk eksperimentasi artistik dari masing-masing, tapi juga berusaha merepresentasikan soal-soal keseharian melalui gambar & suara yang terproyeksikan. Mereka menawarkan narasi lain, tentang bagaimana suara dan gambar tidak terpenjara dalam sekuen-sekuen pembingkaian yang telah dikonstruksi oleh perangkat lunak dan keras dari komputer. Dalam sesi ini, mereka akan menampilkan kembali hasil kolaborasi mereka di penghujung acara.

Dalam diskusi ini, menghasilkan beberapa temuan, yang antara lain :

mencoba untuk mencari kolaborasi antara audio dan visual, Bereksperimen dalam sebuah metode pertunjukan

Kehadiran Tubuh

Sebagai sebuah pertunjukan, tubuh merupakan elemen yang paling penting. Dalam sesi ini, Bagaimana pertunjukan yang biasanya melihat kehadiran tubuh sebagai hal yang utama. Namun dalam sesi ini berusaha memberi ruang yang berbeda antara tubuh sang performer dengan area penonton. Kejangkauan teknologi memberikan keluasan kita dalam meretas kehadiran tubuh. Dalam hal ini tubuh menjadi bagian yang mendukung, tubuh sebagai hal utama yang tidak perlu dihadirkan, karena kehadiran-kehadiran tersebut telah dilakukan oleh objek-objek pilihan. Selain itu, perangkat teknologi mampu untuk menghadirkan hasil yang telah dilakukan oleh tubuh. Dalam prosesnya pertunjukan visual dihadirkan sebagai hal yang berdiri sendiri terlebih dahulu, Bagaimana pertunjukan visual yang dihasilkan tanpa hadirnya tubuh secara langsung dilakukan. Bagaimana pertunjukan visual mampu menghasilkan kesan sendiri tanpa hadirnya kehadiran audio. Dalam hal ini, kehadiran visual mampu bercerita (walau tidak secara langsung) mampu untuk memberi makna dan simbol serta kesan kepada penonton yang hadir. Dan kehadiran tubuh dari penggerak visual tidak begitu diperhatikan, karena perhatian mata dan sifat tontonan telah hadir dengan hasil proyeksi perangkat teknologi.

Selanjutnya, Pertunjukan audio yang dicoba dihadirkan untuk berdiri sendiri. Dengan hadirnya ruangan gelap. Tanpa adanya visual yang dihadirkan, Pentonton mencoba mencari hadirnya tubuh sang performer saat itu. Walau berbeda ruangan, namun masih dapat dilihat oleh penonton secara langsung. Dalam hal ini audio menjadi hal yang imajinatif dan hal tersebut perlu didasari pada objek tontonan yang dilakukan oleh penonton. Perangkat teknologi seperti speaker mampu menghasilkan suara yang dihasilkan proses dari tubuh sang performer.

 

 

Foto oleh : 
Noppel