Art Projects

Lenggana Pèsèr Koinan

Lenggana Pèsèr Koinan

bervariasi

Media Campuran

2018

 

Koin merupakan salah satu alat tukar yang bersifat transaksional. Karena nominalnya yang kecil, kadang kala koin menjadi disepelekan oleh masyarakatnya, bahkan tak bernilai. Banyak pihak yang memanfaatkan hal tersebut dan menggumpulkannya sebagai salah satu sumber pendapatan dengan berbagai motif. Misalnya, penggalangan dana atau dukungan dalam untuk kemanusiaan atau sebagainya dengan cara menggumpulkan koin, seperti yang dilakukan masyarakat untuk medukung Prita dalam rangka kemanusiaan. Dengan adanya kata "koin" seolah masyarakat yang memberikan dukungan terasa ringan untuk membantu atau memberi dukungan, selain itu ada kesan perlawanan terhadap institusi yang mendiskriminasikan (dalam hal ini kasus Prita) karena diberikan kepada institusi tersebut dalam bentuk koin. Atau dengan konsep amal pembangunan sebuah tempat ibadah atau sumbangan panti asuhan dengan imbalan pahala

Motif lainnya seperti dimasukannya mitos dalam situs-situs tertentu, beberapa situs di belahan dunia membuat mitos ketika melempar koin ke kolam(misalnya) dengan mata tertutup makan kita akan memperoleh rezeki yang banyak nantinya. Partisipasi tersebut cukup diminati karena kesan koin yang tidak lagi bernilai (bahkan dilakukan oleh wisatawan mancanegara, yang mana koin tidak dapat ditukar dengan mata uang negaranya) dan mencoba "tantangan" tersebut.

Selain itu, di beberapa kota besar di Indonesia memiliki sukarelawan pengatur lalu lintas yang lebih dikenal dengan polisi cepek atau pak ogah. Mereka biasanya beroperasi di persimpangan jalan dan membantu pengendara kendaraan bermotor khususnya roda empat untuk melintas persimpangan atau berputar arah. Dengan semangat sukarela kebanyakan dari mereka mengharapkan imbalan uang dan seringnya pengendara memberikan koin sebagai imbalan atas jasanya. Mereka hadir karena kurangnya kesadaran masyarakat perkotaan dalam berkendara, kesadaran untuk memberikan kesempatan sesama pengguna jalan. Karena mengharapkan imbalan koin dari pengendara yang membutuhkan mereka tentu saja memprioritaskan pengendara yang membutuhkan. Dan hal tersebut malah membuat kemacetan.

Bagi beberapa orang, koin sudah tidak memiliki nominal maka dari itu mereka tidak segan dan berfikir ulang untuk menggeluarkannya. Dengan nominal yang terkesan kecil, namun bila diakumulasikan jumlahnya tidaklah sedikit dari beberapa motif menggumpulkan dan membuang koin di masyarakat khususnya di Indonesia yang dijelaskan diatas, kita terkadang tidak pernah mengakumulasikan nominal. Kita tidak sadar motif-motif tersebut menghasilkan jumlah yang fantastis. Mungkin saja melebihi jumlah penghasilan kita perbulannya dan beberapa dari kita tidak menyadarinya.

Selain itu, pemanfaatan akumulasi dari jumlah nominal terkecil untuk meraih keuntungan dalam sistem pasar mapan juga terjadi. Hal ini dapat dilihat dengan beberapa pencantuman harga yang dilakukan pasar retail seperti convenince store atau supermarket yang berskala nasional. Sebuah produk dengan harga nominal yang terkadang tidak ada mata uangnya atau terbilang langka di Indonesia terjadi, seperti contoh harga sebuah buah apel adalah Rp. 3.450,-/100gram bila kita membelinya dengan jumlah 200gram kita masih mendapat pembulatan harga menjadi Rp. 6.900,- namun bila kita membeli beberapa buah apel tersebut dan ditimbang dengan berat 537gram maka kita mendapat harga Rp. 18.526,- terkadang harga tersebut dibulatkan menjadi Rp. 18.600,- berarti ada selisih Rp. 74,- bisa dibayangkan bila selisih tersebut dikalikan (minimal) 100 transaksi setiap hari, maka hasilnya Rp. 7.400,- itu baru dari 1 produk. Bagaimana bila terdapat 20 produk dan kita anggap memiliki selisih yang sama. Dan bisa dibayangkan bila hal tersebut dikalikan 30 hari. Hasilnya Rp. 4.400.000,-/bulan. Angka tersebut merupakan hasil dari selisih saja, bukan keuntungan dari supermarket tersebut.

Karya ini mencoba untuk mensimulasikan motif-motif pengumpulan koin tersebut dan diakumulasikan lalu dibandingkan dengan akumulasi dari sistem kapital yang terkadang mengakali jumlah uang yang kecil tapi bila diakumulasikan juga menghasilkan hasil yang banyak. Bagaimana dari karya ini kita bisa melihat apakah motif-motif tersebut mampu untuk menandingi pola-pola yang terjadi di sistem pasar yang establish yang mencoba memanfaatkan akumulasi dari nilai nominal kecil atau uang koin.

Karya ini di pamerkan pada kota.edu yang kuratori oleh Ade Darmawan di Auditorium Gudskul, 3-17 November  2018