Kerja Sama “Perguruan Tinggi” dengan Industri Ritel

Ketika saya masih duduk di sekolah dasar, ibu saya selalu mengingatkan untuk “beresin buku” untuk besok ke sekolah. Karena pada umumnya, kalau ke sekolah pasti bawa buku, buku selalu identik dengan belajar. Baik sekolah atau perguruan tinggi pasti berhubungan dengan buku.

Seorang Kawan tiba-tiba saja memutuskan untuk membuka toko buku di daerah Bintaro, Tangerang Selatan. Sontak saya sedikit kaget tapi katanya itu merupakan cita-citanya waktu kecil. Singkat cerita, terjadilah sebuah syukuran sebagai dimulainya proses berdirinya “Toko Belakang” pada bulan Ramadhan. Sebagai bentuk dukungan terhadap toko buku tersebut saya menawarkan karya dengan judul A Degree Is Just a Piece of Bibitulit

Karya ini bersifat dinamis dan modular, dengan sistem operasi yang memfasilitasi aplikasi dari karya ini digonta-ganti. Karya ini mengadaptasi prinsip kerja wahana photo booth, di mana berdasarkan pengamatan saya, objek ini yang selalu menjadi favorit setiap orang khususnya di Jakarta, baik di pusat perbelanjaan, acara resepsi pernikahan, kantor pelayanan yang membutuhkan foto dan lainnya. Walaupun memiliki prinsip kerja yang sama dengan photo booth, pada awalnya, karya ini menawarkan proses pemilikan “ijazah” kolektif dengan sangat singkat. Orang diminta untuk berpose bersama teman, Kawan, pasangan atau siapa pun (intinya lebih dari satu orang) lalu menuliskan nama “kolektif” nya dan tunggu beberapa saat mesin pencetak menghasilkan sebuah “ijazah kolektif”, lalu dilegalisasi dengan cap sebagai pengesahan oleh “institusi” dan dimasukkan ke dalam map layaknya dokumen penting lainnya.

Bisa dibilang karya ini merupakan sikap melalui gurauan terhadap fenomena fetisisme terhadap ijazah di pendidikan. Manusia berharap mendapatkan kertas yang sah dari otoritas untuk mendapatkan kerja, untuk mendapatkan upah yang layak (katanya), hal tersebut boleh saja, namun membuat ekosistem pendidikan tinggi (khususnya) melupakan hakikat pendidikan itu sendiri. Hakikat pendidikan yang dipikirkan oleh Ki Hajar Dewantara. Maka setelah berdiskusi dengan sang pemilik toko, Universitas Gaung Bibitulit di wakili oleh saya memutuskan untuk membuat versi khusus pada Toko Belakang, yaitu versi foto bersama bukumu sebagai wahana pada peresmian Toko Belakang pada tanggal 26 April 2026.

Kembali ke Toko Belakang, menurut saya dari namanya saja sudah mendalam, walau secara praktis karena letak toko ini berada di belakang sebuah pertokoan. Namun mengingatkan saya pada logo sebuah kementerian yang memiliki semboyan di bawahnya. Tut Wuri Handayani, hampir setiap orang di Indonesia akrab dengan semboyan tersebut, berada di atas logogram belencong bermotif garuda dan selalu melekat di ekosistem pendidikan di Indonesia. Secara harfiah, Istilah Tut Wuri Handayani berasal dari bahasa Jawa, yang berarti di belakang memberikan dorongan. Yang dibaca secara pemaknaan bahwa setiap pendidik memberikan ruang bagi manusia untuk terus belajar sehingga dapat berjalan sendiri, berani mencoba hingga mengambil keputusan. Pendidik secara aktif memberikan kepercayaan kepada manusia yang merdeka, dimotivasi agar salah yang merupakan bagian dari belajar, Tanpa paksaan dan memaksa kehendak.

Berkaca pada Toko Belakang, buat saya toko buku ini harus memfasilitasi untuk insan-insan yang belajar dengan cara memberikan energi untuk berproses secara mandiri. Dengan bentuk bisnis yang menjual produk utamanya buku, di mana menjadi salah satu sumber belajar dan meminjam istilah dulu “buku adalah jendela dunia”, Toko Belakang sebagai ruang yang  untuk berpikir secara mandiri dan memantik kesadaran kritis manusia-manusia hingga mendapatkan kedaulatan pengetahuannya sendiri dan toko belakang harus bisa mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan.

Kembali ke wahana Foto Bersama Bukumu, wahana ini dapat diakses oleh orang-orang yang belanja di Toko Belakang, kebanyakan dari mereka membeli buku. Buku tersebut ditunjukkan bersama dengan pembeli di hadapan kamera kecil yang merupakan bagian dari wahana ini. Lalu mereka menuliskan namanya dilanjutkan judul buku yang dibeli hingga pada akhirnya tercetak dalam selembar kertas berukuran A4 dengan ketebalan sekitar 160gsm. Berbeda dengan versi Ijazah Kolektif, wahana ini sedikit lebih lama dalam proses pencatatan data, khususnya pada judul buku yang rata-rata panjang. Terlebih wahana ini tidak menggunakan papan ketik melainkan sebuah push button dengan warna hijau berukuran sekitar 60mm sebagai pemicu abjad yang dipilih secara virtual dan tuas joystick  ala arcade game sebagai pengarah. Jika sudah selesai dan memastikan apa yang dimasukkan sesuai pengakses wahana ini menekan push buttonbiru untuk melanjutkan proses pratinjau dari hasil pendataan pada tahap sebelumnya.

Banyak yang terlihat senang dan antusias dalam mengakses wahana ini. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak kecil yang dibelikan buku oleh orang tuanya. Saking antusiasnya ada seorang anak yang memperlakukan wahana ini layaknya sebuah arcade game pada umumnya dengan menekan tombol dengan cepat dan keras tanpa membaca instruksi selanjutnya, hal tersebut mengakibatkan wahana tidak mencetak dan harus mengulang lagi untuk mendapatkan hasil cetakannya. Dalam proses menangkap citra diri dengan bukunya, banyak pengakses yang berupaya dengan keras untuk menangkap citra diri bersama bukunya. Hal ini disebabkan karena jarak tangkap kamera terlalu dekat, jika pengakses menjauhkan diri dari kamera maka kesulitan untuk menekan push button yang berada di wahana ini.

Secara umum berdasarkan pengamatan saya banyak menikmati proses wahana pencetak ijazah bersama bukunya. Banyak pengakses yang terpantik karena wahana ini mengingatkan dirinya dengan arcade game yang mereka akses di masa lalu. Ada juga orang tua yang memfasilitasi anaknya dengan membantu pendataan nama dan judul buku karena motorik anaknya masih lambat dan belum terbiasa. Banyak juga orang tua yang mengarahkan gaya anaknya dalam menangkap citra diri dan bukunya. Hingga pada akhirnya para pengakses mendapatkan ijazah versi Toko Belakang yang diampu oleh Universitas Gaung Bibitulit.

Pada dasarnya wahana ini juga berusaha untuk memfasilitasi orang-orang untuk memberhalakan ijazah dalam konteks pendidikan, pendidikan harus dimaknai secara mendalam salah satunya dengan membaca buku dengan cara membeli buku di Toko Belakang. 

Makan siang Lauknya kerang, Pergi ke kota naik gajah.
Sudah di toko buku belakang, Mari beli buku dapat ijazah.
- Si Dosen

Mei 2026