Dan Aku Akan Bilang Inilah (Pendidikan Tinggi) Indonesia

“Pernah aku impikan jadi mahasiswa
Kan ku bangun negara dengan karya cipta yang nyata.
…Kan ku bangun negara harum dimata dunia
Dan aku akan bilang inilah Indonesia….”
- OM PMR - Cita Cita Edan

Nampaknya lirik lagu tersebut akan menjadi tidak relevan di kemudian hari. Alih-alih bercita-cita menjadi mahasiswa untuk membangun negara dengan karya-karya hasil dari pemaknaan kritis yang difasilitasi oleh perguruan tinggi, mahasiswa malah menjadi buruh yang terserap industri. Atau bahkan, program studi yang diminatinya ditutup oleh Kemendiktisainstek. Kasihan!

Sebuah rencana terakhir yang disiapkan oleh kementerian yang mengurus pendidikan tinggi, sains, dan teknologi di Republik ini, melalui Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderalnya yang juga seorang guru besar di bidang manajemen strategi. Dalam tulisan opini di Kompas.id, disebutkan bahwa memilih, memilah, dan memodifikasi kurikulum program studi yang sudah ada perlu dilakukan (lebih banyak ilmu humaniora), terlebih untuk menutupnya (Sukoco, 2026). Orientasi pendidikan tinggi Indonesia diarahkan pada langkah strategis market-driven dan market-driving, dengan berkaca pada China yang menggunakan market-driving dan Vietnam yang menggunakan market-driven.

Pertanyaan mendasar yang diajukan dalam opini yang ditulis oleh (Arif, 2026) adalah: rencana penutupan program studi tersebut relevan dengan industri yang seperti apa? Dan apakah industri telah berinvestasi pada riset dan pendidikan?

Di satu sisi, orientasi pendidikan tinggi yang hanya berfokus pada industri dan menyerap tenaga kerja bergelar sarjana untuk menjadi penggerak roda-roda perekonomian negara hanya akan membuahkan fetisisme terhadap ijazah semata. Kampus sebagai pusat ilmu pengetahuan dan pusat eksperimentasi yang kontekstual untuk masyarakat hanya menjadi pabrik manusia berijazah.

Di sisi lain, banyak perguruan tinggi yang gemar memberikan giveaway gelar. Baik terhadap masyarakat biasa yang membutuhkan kertas berhologram dengan kop resmi kementerian, maupun untuk para anggota dewan, pejabat, serta politisi yang terhormat. Bahkan pemberian giveaway tersebut tidak hanya di tingkat Strata 1, bahkan hingga tingkat Strata 3, terlebih pemberian gelar guru besar untuk mereka yang dianggap “berjasa” bagi negara ini, khususnya para menteri dan politisi.

Belum lagi jika kita bicara tentang dosen sebagai frontliner dalam konteks pendidikan tinggi. Dosen harus berkompetisi untuk bisa mendapatkan pendapatan yang ideal sesuai dengan perspektif market value, ujar Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. Sungguh malang nasib dosen di Indonesia; sudah harus berkompetisi untuk mendapatkan penghasilan ideal, program studinya terancam ditutup, harus meluluskan manusia yang berorientasi pada kertas berhologram (ijazah), perguruan tingginya memberikan giveaway gelar kepada para politisi, serta akreditasi yang ditujukan untuk menjaga kualitas malah menjadi beban administratif semata tanpa substansi yang jelas.

Baik Sekretaris Jenderal atau Wamen Kemendiktisainstek bukanlah orang yang tidak bisa berpikir. Mereka bergelar profesor dengan pemikiran yang membuahkan ilmu pengetahuan yang berdampak kepada masyarakat. Mereka telah melewati banyak pengalaman dan metodologi dalam berpikir secara ilmiah hingga dinobatkan dengan gelar terhormat tersebut. Amanah gelar tersebut melekat pada diri mereka selamanya, sehingga pastilah mereka memahami konsekuensi logis dari kebijakan atau rencananya.

Apapun arah kebijakan tersebut, pastinya telah dipikirkan masak-masak dengan hasil diskusi berbasis akademik. Sebagai guru besar manajemen strategis, pastilah beliau sangat piawai dalam mengarsitekturi pendidikan tinggi di negara ini. Sebagai lulusan Psikologi Kognitif dari kampus terbaik di dunia, pastilah beliau paham akan proses pengembangan kognitif manusia sehingga mampu menjadi manusia yang memiliki kodrat jiwa merdeka dan daya jiwa (cipta, karsa, dan karya) yang harus dikembangkan secara utuh sesuai dengan cita-cita Suwardi Suryaningrat.

Kembali ke penggalan lirik lagu di atas: bercita-cita menjadi mahasiswa dengan tujuan membangun negara melalui kemampuan intelektual, daya kritis, dan ilmu pengetahuan yang difasilitasi di kampus. Eh, malah jadi roda-roda penggerak industri yang belum tahu arah industrinya ke mana. Eh, malah jadi budak korporat dengan kalung lanyard. Eh, malah menyikut teman sendiri demi karier yang lebih baik.

Lirik lagu orkes tersebut memang terdengar renyah, ringan, dan terkesan dari kalangan masyarakat akar rumput. Namun, jika kita maknai, lirik tersebut adalah suara dan cita-cita masyarakat yang ingin membangun negaranya sesuai dengan cita-cita Bapak Pendidikan Indonesia. Mungkin jika kita lihat judul dari lirik tersebut, “Cita-cita Edan”, akan terasa sangat relevan hari ini. Sebab, untuk membangun negara dengan karya cipta yang nyata dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia nampaknya sudah tidak masuk akal lagi. Dan aku akan bilang: inilah (pendidikan tinggi) Indonesia....

Jakarta, 29 April 2026

Arif, A. (2026, April 29). Yang Harus Ditutup Bukan Prodi. https://www.kompas.id/artikel/yang-harus-ditutup-bukan-prodi
Sukoco, B. M. (2026). Arsitektur Pendidikan Tinggi Indonesia. Kompas. https://www.kompas.id/artikel/arsitektur-pendidikan-tinggi-indonesia